Polusi udara jakarta : bahaya terhadap kulit wajah

Polusi udara jakarta : bahaya terhadap kulit wajah

Polusi udara

Informasi sebelumnya bahwa untuk saat ini kota Jakarta sedang mengalami peningkatan polusi udara yang sangat ekstrim. Itu juga bahaya terhadap kulit wajah lo!

Berkendara di jalan raya menuju tempat kerja tidak bisa dielakkan bagi sebagian besar penduduk kota Jakarta. Apalagi, untuk saat ini mereka juga harus menghadapi kualitas udara di Jakarta yang semakin buruk

Satu jam bersepeda motor dari kediamannya di Kalibata menuju kantor lembaga riset kebijakan publik tempatnya bekerja di Cilandak, perempuan asal Semarang ini mendapati wajahnya kusam dan berjerawat saat melepas masker.

“Mukaku jerawatan di mana-mana. Di jidat, pipi, dan rahang,” kata Natalia sambil menunjukkan jerawatnya kepada DW Indonesia.

Wajah perempuan berusia 29 tahun tersebut telah berjerawat saat harus menggunakan masker wajah sejak pandemi COVID-19. Namun, impiannya untuk segera bebas masker seusai pandemi tidak kunjung terwujud. Hingga kini ia harus tetap mengenakan masker setiap bepergian ke luar rumah untuk mengurangi dampak negatif polusi udara di sistem pernapasannya.

“Aku punya asma. Aku pernah kena radang tenggorokan. Rasanya sesak kalau ga pakai masker, menghirup udara yang kelihatannya ada asap tapi tipis,” terang Natalia.

Hybrid Working, solusi atasi polusi?

Presiden Jokowi membahas permasalahan buruknya kualitas udara di ibukota Jakarta dalam rapat terbatas. Dalam kaitannya, Presiden Jokowi mengatakan bahwa pada tanggal 13 Agustus 2023, indeks kualitas udara DKI Jakarta berada di angka 156 atau tidak sehat.

Pemerintah mengatakan ada beberapa faktor yang berkontribusi pada perburukan kualitas udara di Jakarta. Misalnya, pembuangan emisi dari transportasi dan kegiatan industri di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)

Pemerintah kemudian mengusulkan solusi jangka pendek untuk mengantisipasi permasalahan ini yaitu memperbanyak ruang terbuka hijau, mendorong kantor-kantor melaksanakan hybrid working yakni mengombinasikan kerja di kantor dan dirumah.

Natalia menuturkan bahwa tempat dia bekerja sudah menerapkan kombinasi bekerja dari kantor dan rumah. Namun, ia berpendapat sistem kerja tersebut belum menjawab permasalahan polusi udara.

Ga ngaruh karena kita tetap punya aktivitas lain di luar rumah selain bekerja,” ujar Natalia.

Ia mengaku harus ekstra rajin dalam menyikapi permasalahan kulit wajahnya. Natalia pun kerap membeli produk-produk perawatan kulit wajah. Setiap tiga bulan sekali ia merogoh kocek sekitar Rp. 200,000,- untuk membeli obat totol jerawat, serum, pelembab, dan pelindung tabir surya.

Tidak hanya itu, untuk menunjang kesehatan kulit wajah, Natalia juga mengonsumsi air putih, buah, serta rutin berolahraga.

Masker saja tidak cukup

Kendati masker bisa memproteksi wajah dari kuman dan debu, hal tersebut dinilai belum cukup untuk melindungi wajah dari paparan polusi udara, menurut dokter Aulia Nurul Fatimah, dokter estetika wajah yang berpraktik di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dokter Aulia menyarankan penggunaan krim tabir surya sebelum bepergian. Ia memaparkan bahwa kulit manusia menyerap sinar ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari alih-alih memantulkannya. Terutama di kulit wajah.

Bentuk perawatan lainnya yang bisa mengurangi permasalahan wajah adalah rutin mencuci muka sehari dua kali. Upaya-upaya menjaga kesehatan kulit wajah perlu dilakukan sebelum seseorang pergi keluar rumah dan menggunakan masker, ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dampak jangka pendek dari paparan polusi udara yang mudah terlihat adalah wajah terlihat kusam. Selain itu, siapa pun juga rentan dengan permasalahan wajah bila menggunakan masker berjam-jam. Jerawat muncul tidak hanya karena paparan polusi udara, tambahnya.

“Efek (memakai) masker berjam jam tidak hanya orang berjerawat (walaupun) memang mereka lebih banyak masalah. Udah ketutup, berkeringat jadi satu, belum lagi kena polusi,” ujar dokter Aulia. Oleh karena itu, siapa pun harus bisa memilih masker dengan bahan yang cocok dengan kulit wajah masing-masing, kata dokter Aulia.

Ia menegaskan dampak jangka panjang yang bisa muncul bertahun-tahun bila wajah sering terpapar polusi udara. Kulit akan rusak dari dalam karena jaringan kulitnya terkena banyak radikal bebas bila tanpa melakukan perawatan wajah, tambahnya.

“Efek jangka panjang yang paling ditakuti adalah kanker kulit,” tegasnya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *